Mau nonton di bioskop? mending 3D atau non 3D?

Mau nonton di bioskop? mending 3D atau non 3D?

Mau 3D atau non 3D, semua punya kelebihan masing-masing. Kalau 3D, film berasa lebih nyata, seolah-olah keluar dari layar menuju kita. Atau kita berasa masuk ke dalam filmnya. Kalau non 3D apa dong kelebihannya? Lebih murah 😀 hahaha…

Film 3D biasanya tiketnya sampai 50rb, sedangkan yang non 3D cuman 35 atau 40, lumayan selisihnya buat beli pop corn :p

Kalau mau gak rugi, sebaiknya ente lihat dulu itu film, kira2 bakalan banyak efeknya gak..

Misal, avanger, nah disitu lumayan banyak efeknya, karena filmnya menampilkan pertarungan dunia modern yang bakal banyak memamerkan kemampuan editor film dalam membuat efek. Atau film animasi seperti sammy, nah disitu bakal bagus banget efek 3Dnya gan.. Soalnya si pembuat film emang niat mau nonjolin efek 3D, jadi buat film2 ginian ane saranin nonton versi 3Dnya aja..

Tapi kalau ente nonton semacam hunger games, finest hours, atau spiderman misal.. tu film versi 3D emang ada, tp pembuat film gak terlalu fokus buat menonjolkan efek 3D. Jadi mending nonton 2D aja deh.. toh yg penting ngerti ceritanya.. Lagian nonton 3D itu capek soalnya kudu pakai kacamata terus sampai akhir.

Banyak penonton yang kurang nyaman lho pakai kacamata terus2an, apalagi yg udah pakai kacamata dari sononya, jd musti didobel deh tu kacamata. Selain itu, 3D itu bikin gambar sedikit agak gelap dibanding aslinya. Kenapa? Karena filter yang ada di kacamata 3D akan mengurangi lumens cahaya yang masuk ke mata.

 

Sejarah film 3D

Sekilas tentang bioskop 3D, teknologi film 3D sudah ditemukan lama sekali sekitar tahun 1890. Seorang bernama William Friese-Greene mengajukan hak paten untuk proses film 3D. Film 3D adalah film yang bila dilihat secara stereoskopis, menunjukkan dua gambar untuk masing-masing mata kiri dan kanan, yang digabungkan oleh otak untuk menghasilkan persepsi kedalaman 3D.

proses terjadinya 3D polar

Salah satu film 3D yang cukup populer dengan efek memukau adalah Avatar (yang buatan James Cameroon lho bukan yang the legend of ang). Untuk menghasilkan efek 3D yang benar-benar nyata, James menggunakan kamera khusus untuk shootingnya, yaitu pakai dua buah kamera yang masing-masing kamera merepresentasikan mata manusia. Jadi ada kamera kiri, dan kamera kanan. Hasilnya nanti, akan ada dua buat tayangan video yang hampir mirip, namum memiliki sedikit perbedaan pada jarak tembaknya ke gambar. Dua video inilah yang akan digabungkan menjadi film stereoscopic yang benar-benar mewakili mata penonton untuk melihat apa yang kameramen lihat.

Jaman dulu banget, 3D diperkenalkan dengan teknologi pembeda warna atau yang sering disebut dengan anaglyph. Anak-anak sekitar tahun 90-an mungkin ingat pernah ada acara televisi berbasis 3D anaglyph (merah biru) yang mengharuskan penontonnya untuk memiliki kacamata 3D anaglyph untuk bisa ikut menyaksikan efek 3Dnya. Anaglyph sendiri sudah cukup lumayan memberikan efek 3D, efek kedalaman gambar. Namun masih belum cukup memberikan efek 3D yang keluar dari layar, karena saat-saat ada adegan gambar mau keluar dari layar, 3D jenis ini akan memberikan efek ghosting.

Saat ini teknologi sudah berkembang pesat. 3D beralih menggunakan pemancar gelombang, seperti pada IMAX atau RealD. Teknologi itu dipraktekkan oleh bioskop blitzmegaplex dan IMAX XXI.

Kalau untuk ane pribadi, ane paling nyaman sama dolby 3D, yang dibawakan oleh bioskop XXI. Selain nyaman di mata, efek 3Dnya pun hampir sempurna, tanpa ghosting, dan… nyaman banget lah pokoknya.

Kesimpulannya, kalau mau nonton sebaiknya ente browsing dulu tu film tentang apa, kalau emang banyak efeknya,, ente bisa ambil versi 3Dnya.. tapi kalo cuman ceritanya yang penting,, nonton 2D juga tak apa.

Selamat menonton 😀

Leave a Reply